Lampung adalah tanah perjumpaan. Di dalamnya hidup dan tumbuh beragam suku: Lampung, Jawa, Sunda, Batak, Semende, dan lainnya. Semua bernaung di bawah satu atap kebersamaan yang sama. Maka sudah semestinya, bahasa Lampung tidak diposisikan sebagai simbol perbedaan, melainkan sebagai jembatan persaudaraan.
Miris rasanya ketika kita menyaksikan kenyataan di lapangan: ada saudara kita dari suku lain—terutama Jawa—yang ingin belajar dan berbicara bahasa Lampung, namun justru disambut ejekan. Kalimat bernada merendahkan kerap terlontar, tanpa disadari melukai semangat baik yang sedang tumbuh. Padahal, niat mereka adalah bentuk penghormatan, bukan peniruan yang patut ditertawakan.
Ironisnya, dalam keseharian, tidak sedikit orang Lampung justru lebih fasih menggunakan bahasa Jawa. Ini bukan kesalahan, tetapi menjadi cermin: jika kita mampu berbahasa orang lain dengan lapang, mengapa kita tidak membuka ruang yang sama agar bahasa kita sendiri hidup dan dipelajari bersama?
Bahasa Lampung tidak akan lestari jika hanya dipelihara oleh satu suku. Ia akan hidup bila dijadikan bahasa pergaulan, bahasa persaudaraan, bahasa yang diajak—bukan dipaksa, apalagi diejek. Sebagai tuan rumah, ajakan yang santun jauh lebih bermakna daripada kebanggaan yang eksklusif.
Mari kita mulai dari hal sederhana: menyapa, berbincang, dan bercanda dengan bahasa Lampung tanpa rasa superior. Membetulkan dengan senyum, mengajarkan dengan sabar, dan menghargai setiap usaha, sekecil apa pun. Yakinlah, saudara-saudara kita dari suku mana pun tidak menolak. Mereka hanya menunggu diajak, bukan dihakimi.
Karena sejatinya, menjaga bahasa daerah bukan soal siapa yang paling asli, tetapi siapa yang paling peduli.
Mak ganta kapan lagi, mak gham sapa lagi.
Jika bukan sekarang kita membiasakan, jika bukan kita yang menghidupkan, lalu kepada siapa bahasa ini akan dititipkan?
Bahasa Lampung adalah rumah bersama. Mari kita rawat dengan akal, adab, dan persaudaraan—agar tetap hidup, tumbuh, dan membanggakan, untuk semua.
Penulis:(Healry Egy)















