METRO,(GN) – Beredar video berdurasi 11 menit 42 detik dan 14 menit 30 detik, berikut data nama-nama mahasiswa yang diduga mahasiswa tanpa Nomor Peserta Mahasiswa atau Nomor Induk Mahasiswa resmi PDDIkti serta data adminitrasi pembiayaan kuliah tertanda resmi perbendaharaan An.Rini dan surat keterangan yang ditandatangani rektor I, Sujimat.
Terkait ini, pihak UNISLA enggan menanggapi konfirmasi tim media, dengan alasan sudah ada tim yang di percayakan pihak kampus kepada seorang oknum wartawan kota metro, jika mengait soal urusan media. Minggu, 22/02/2026.
Point isi dalam video dan data data dokumen yang di ungkap salah satu Koordinator Kecamatan kuliah gratis, insial NA, menunjukkan bahwa, pihak Universitas Islam Lampung (UNISLA) Kota Metro, diduga lakukan praktek jual beli ijazah Strata Satu (S1) palsu. Hanya butuh waktu 5 sampai 6 bulan, ijazah dan gelas S1 dapat di sandang dengan biaya kuliah Rp. 3,5 Juta lebih. Ironisnya, praktek ini bagian dari Program Kuliah Gratis Unisla yang dicetuskan Hi.Bambang Iman Santoso.
Hasil penelusuran tim media ini, bahwa ada 20 orang lebih, yang mengikuti dan menjadi korban dugaan penipuan modus kuliah gratis dengan tarif jutaan rupiah. Proses kuliah di UNISLA dalam program gratis itu juga bisa digantikan jika berhalangan, misalnya Istri yang hendak kuliah digantikan suami. Dan sampai saat ini belum ada kejelasan, pihak UNISLA hanya memberikan janji – janji.
Praktek kuliah singkat tersebut merupakan program kuliah gratis, cetusan Hi.Bambang Iman Santoso membentuk tim koordinator tiap kecamatan untuk mencari dan merekrut, agar program itu berjalan, dengan biaya kuliah Rp. 3,5 juta.
Para korban praktek kuliah singkat ini menuntut janji kepastian untuk dikeluarkan ijazah yang konon katanya masih proses di Dirjen Dikti (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi).
Status keberadaan nama UNISLA, juga menjadi sorotan. Berubah nama dengan singkat dari STIT Agus Salim berubah IAI Agus Salim dan kini dengan singkat berubah nama menjadi UNISLA.
Dalam proses pembiayaan administrasi perkualiahan dan dokumentasi administrasi masih menggunakan KOP Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Institute Agama Islam (IAI) Agus Salim dan tertanda tangani resmi.
Ini dibuktikan dengan adanya nama-nama yang menjadi mahasiswa UNISLA dengan data 2018, kelulusan 2025 tanpa ijazah. Lulus 2022 surat keterangan lulus ujian skripsi baru dikeluarkan awal 2025. Tanpa data jelas, tanpa nomor peserta mahasiswa atau NPM/NIM resmi.
Hampir ke 20 orang mahasiswa yang sampai saat ini belum ada kejelasan dari pihak kampus UNISLA, dan menjadi korban dugaan praktek penipuan tesebut, mereka juga tidak dikenal oleh para alumni ditahun ajaran yang sama dan tidak pernah melihat aktifitasnya dikampus selayaknya mahasiswa.
Beberapa alumni STIT/IAI Agus Salim yang menjadi sumber tim media ini, mengatakan bahwa data nama-nama mahasiswa yang tercantum kelulusan, sesuai data PDDikti masing – masing tahun 2018, 2019, 2020, 2021 dan dinyatakan LULUS tahun 2021/2022, 2022/2023, 2023/2024, 2025/2026, setingkat level Strata Satu (S1) dan rata rata di PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah).
“Sangat aneh dan sangat singkat sekali. Pihak kampus harus bertanggungjawab dalam hal ini, karena ini menyeret nama baik kampus, dan tentunya mengait juga nama para alumni, jangan sampai kami bersatu dan turun menuntut pertanggungjawaban secara hukum,”tegas Alumni STIT/IAI Agus Salim, inisial BK dan rekan – rekannya, kepada tim media ini. (*)















