TANGGAMUS, gerbangnusantara.id — Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah Indonesia, ribuan warga di sejumlah pekon di Kecamatan Pematang Sawa masih hidup dalam keterbatasan akses transportasi darat. Delapan pekon yang berada di wilayah pesisir dan perbukitan itu hingga kini masih sangat bergantung pada jalur laut dan jalan setapak untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga distribusi hasil pertanian.
Data wilayah menunjukkan, sejumlah pekon di Kecamatan Pematang Sawa memiliki cakupan wilayah yang luas dengan jumlah penduduk yang terus berkembang. Namun kondisi infrastruktur jalan dinilai belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat.
Pekon Kaur Gading misalnya, memiliki luas wilayah sekitar 1.700 hektare dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 1.016 jiwa atau 272 kepala keluarga. Sementara Pekon Way Asahan memiliki luas sekitar 600 hektare dengan jumlah penduduk berkisar 756 hingga 808 jiwa berdasarkan data arsip sebelumnya.
Kemudian Pekon Tampang Muda tercatat memiliki luas wilayah sekitar 1.986 hektare dengan jumlah penduduk lebih dari 1.500 jiwa dan 306 KK. Pekon Tampang Tua memiliki luas sekitar 1.083 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 1.149 jiwa dan 282 KK.
Di sisi lain, Pekon Tirom yang memiliki luas wilayah sekitar 20 kilometer persegi dihuni lebih dari 1.600 jiwa dengan ratusan kepala keluarga. Sedangkan Pekon Teluk Brak memiliki luas hampir 1.927 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 1.599 jiwa berdasarkan data awal pembentukan pekon.
Warga menyebut, kondisi jalan yang belum memadai membuat biaya hidup dan distribusi hasil bumi menjadi lebih mahal. Saat musim hujan tiba, akses menuju pusat kecamatan maupun kabupaten kerap terhambat akibat jalan berlumpur dan sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Mayoritas masyarakat di wilayah tersebut menggantungkan hidup dari sektor pertanian, perkebunan, hasil laut, dan usaha kecil. Namun keterbatasan infrastruktur membuat hasil produksi sulit dipasarkan secara maksimal ke wilayah luar.
“Kalau jalan darat sudah bagus, ekonomi masyarakat pasti bergerak cepat. Anak sekolah juga lebih mudah pergi belajar dan warga tidak lagi kesulitan saat ada yang sakit,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Harapan besar kini tertuju pada perhatian pemerintah daerah, provinsi hingga pemerintah pusat agar pembangunan jalan penghubung antar pekon segera direalisasikan. Warga berharap akses darat permanen dapat membuka keterisolasian wilayah dan mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir di Kecamatan Pematang Sawa.
Selain menjadi jalur mobilitas warga, pembangunan jalan dinilai akan menjadi penghubung penting bagi distribusi hasil pertanian, peningkatan investasi desa, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pengembangan potensi wisata alam pesisir yang selama ini belum tergarap maksimal.
Di tengah semangat pemerataan pembangunan nasional, masyarakat di delapan pekon itu kini hanya menunggu satu hal yang dianggap paling mendasar: hadirnya jalan layak yang mampu menghubungkan harapan mereka dengan masa depan yang lebih baik.
Penulis : EGY Pematang sawa















