Tanggamus (GN)- Lampung ternyata menyimpan situs megalitikum yang tak hanya tua secara usia, tapi juga kaya cerita dan cocok jadi destinasi eksplorasi sejarah buat generasi muda.yaitu Situs Batu Bedil.
Tempat ini bukan hanya berisi batu besar biasa, tapi kompleks peninggalan masa lalu yang menyatukan unsur budaya megalitikum, agama Buddha, dan kisah mistis lokal.
Pada rabu 2 Juli 2025. Bupati tanggamus drs h.mohammad saleh asnawi beserta rombongan mengunjungi situs Batu bedil yang beralamat di Dusun Batu Bedil, Desa Gunung Meraksa, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung
Bupati tanggamus haji saleh asnawi mengatakan Situs Batu Bedil di Tanggamus, menjadi daya tarik wisata. Situs ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi sebagai peninggalan masa prasejarah dan pusat ritual keagamaan.
Upaya untuk menjadikan Situs Batu Bedil sebagai cagar budaya nasional juga sedang dilakukan.
Situs Batu Bedil di Tanggamus, Lampung, menyimpan berbagai benda megalitik seperti menhir, lumpang batu, dolmen, dan batu bergores yang menarik untuk dipelajari dan dinikmati. Lokasinya yang strategis dan mudah dijangkau juga menjadi nilai tambah untuk menarik minat wisatawan.
Selain itu, Situs Batu Bedil ini juga memiliki potensi sebagai tempat pendidikan dan penelitian sejarah, serta sebagai destinasi wisata minat khusus bagi para pecinta sejarah dan petualangan.
Dengan upaya pengembangan dan promosi yang tepat, Situs Batu Bedil diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.
Situs Batu Bedil adalah adalah menhir utama setinggi sekitar 2,2 meter yang berada di tengah area terbuka di Dusun Batu Bedil. Nama “Bedil” berasal dari cerita warga yang sering mendengar suara letusan seperti tembakan dari arah batu tersebut—padahal tak ada satu pun senjata di sana. Suara misterius inilah yang memberi batu ini daya tarik tersendiri, terutama bagi para pencari pengalaman unik dan nuansa spiritual.
Cagar Budaya yang Dilindungi Situs Batu Bedil telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 2004. Pemerintah daerah bersama Balai Arkeologi telah melakukan sejumlah pelestarian mulai dari:
Pemasangan pagar pelindung, Jalur pejalan kaki, Gazebo istirahat, Papan informasi sejarah. Akses menuju lokasi juga cukup mudah dari Bandar Lampung, dengan perjalanan sekitar 2–2,5 jam via Talang Padang.(Red)















