Bandar Lampung , gerbangnusantara.id — Luka lama itu seperti kembali dibuka. Setelah lebih dari satu dekade berlalu sejak gugurnya Bharada Jefri Saputra pada 2015, Lampung kembali berduka. Seorang anggota polisi muda, Brigpol Arya Supena, tewas ditembak saat berusaha menggagalkan aksi pencurian sepeda motor di kawasan Kedaton, Bandar Lampung, Sabtu pagi (9/5/2026).
Peristiwa memilukan itu terjadi di pelataran sebuah toko di Jalan ZA Pagar Alam. Detik-detik perjuangan terakhir Brigpol Arya bahkan terekam kamera CCTV dan menyebar luas di media sosial, mengguncang hati masyarakat Lampung.
Dalam rekaman tersebut, Arya terlihat mendatangi dua pria yang diduga hendak mencuri sepeda motor milik warga. Tanpa ragu, ia mencoba menangkap salah satu pelaku. Namun situasi berubah menjadi tragis ketika terjadi pergelutan sengit.
Diduga dalam kondisi chaos, senjata api milik Brigpol Arya berhasil direbut pelaku. Tak lama kemudian, letusan senjata terdengar memecah pagi. Peluru mengenai bagian kepala korban.
Brigpol Arya tersungkur di lokasi kejadian, masih mengenakan helm, sementara para pelaku melarikan diri sambil membawa senjata api milik korban.
Suasana duka langsung menyelimuti keluarga besar kepolisian dan masyarakat Lampung. Banyak warga mengaku terpukul melihat video perjuangan terakhir sang anggota polisi yang bertaruh nyawa demi menyelamatkan kendaraan milik warga.
Peristiwa ini mengingatkan publik pada tragedi 27 Agustus 2015 silam, ketika Bharada Jefri Saputra gugur ditembak begal saat mengejar pelaku pencurian motor di kawasan Teuku Umar, Bandar Lampung.
Kala itu, kematian Bharada Jefri menjadi titik lahirnya Tim Khusus Anti Bandit Tekab 308, satuan yang dibentuk untuk memberantas begal dan curanmor yang meresahkan masyarakat Lampung.
Namun kini, sebelas tahun berselang, sejarah kelam itu kembali terulang.
Dua anggota polisi gugur di jalanan Lampung. Dua peristiwa berbeda. Namun menyisakan pertanyaan yang sama: sampai kapan kejahatan jalanan terus memakan korban?
Fenomena curanmor dan begal kini bukan lagi sekadar kriminalitas biasa. Di balik aksi brutal para pelaku, tersimpan persoalan yang lebih besar — tekanan ekonomi, rendahnya pendidikan, minimnya lapangan pekerjaan, hingga masih hidupnya pasar kendaraan bodong yang menjadi rantai utama kejahatan.
Selama permintaan motor ilegal masih ada, selama penadah masih bebas bergerak, maka para pelaku akan terus mencari korban berikutnya.
Hari ini, masyarakat Lampung kembali kehilangan rasa aman. Seorang polisi yang seharusnya pulang ke rumah justru gugur di jalan saat menjalankan tugasnya.
Sementara itu, jajaran Polda Lampung masih terus melakukan pengejaran intensif terhadap para pelaku. Aparat juga memburu senjata api milik korban yang dibawa kabur usai kejadian.
Duka atas gugurnya Brigpol Arya Supena kini bukan hanya milik institusi kepolisian, tetapi juga menjadi luka bagi masyarakat Lampung.
Semoga tidak ada lagi nyawa yang melayang di jalanan karena kejahatan yang terus berulang tanpa akhir.
Red: GN
Penulis EGY-GN















